Miss Saigon: Pengalaman yang Tidak Akan Terlupakan Seumur Hidup
Pertunjukkan terakhir drama musikal 'Miss Saigon' pada tanggal 29 Agustus berlangsung dengan sukses di gedung The Regent on Broadway. Setelah selama kurang lebih 4 bulan bergelut dengan latihan, sakit otot, radang tenggorokan, plus tugas sekolah/pekerjaan, akhirnya produksi akhir telah dipentaskan tanpa halangan yang berarti. Sebanyak 12 pertunjukkan, dimulai dengan opening night pada tanggal 14 Agustus, berlalu bagai mimpi walaupun pada saat menjalani prosesnya, semua kelelahan dan frustasi sangat terasa sampai ke kehidupan pribadi masing-masing pihak yang terlibat.
Miss Saigon adalah drama epik yang menceritakan kisah cinta antara 2 sejoli yaitu Kim, seorang wanita Vietnam, dan Chris, seorang tentara Amerika GI. Kisah ini mengambil setting kota Saigon pada tahun 1975, sesaat sebelum tentara Vietnam Utara menyerbu kota tersebut, dan Bangkok 1978.
Dari PPI Palmerston North, empat anggota berhasil lulus seleksi dan turut berpartisipasi dalam drama ini. Mereka adalah: Amanda Celia Chudori, Indah Mayasari, Aretha 'Sasha' Atmadjaja, dan penulis sendiri, Shirley Ghozalli. Tidak satupun dari kami pernah bermimpi akan bisa terlibat dalam project sebesar ini. Menurut pihak The Regent, drama musikal 'Miss Saigon' kali ini adalah drama yang paling kompleks dari sisi teknikal dan perlengkapan panggung. Untuk pertama kalinya, kru panggung harus mengolah dan menggunakan fasilitas The Regent dengan semaksimal dan se-efisien mungkin. Selain itu, dengan kedatangan bintang utama dari Broadway New York, Melinda Chua, drama ini juga merupakan drama pertama berskala Internasional yang pernah dipentaskan di The Regent.
Kesan dari para penonton pun sangat positif. Banyak orang tidak menyangka mereka akan disuguhkan tontonan yang diolah dengan sangat profesional. Dari segi musik, permainan orkestra dan ensemble yang dipimpin oleh sutradara musik, Barry Jones, sangat terarah dan harmonis sehingga banyak yang mengira alunan musik tersebut berasal dari permainan CD. Pendapat ini juga datang dari para penonton yang biasa mendatangi pertunjukkan-pertunjukkan drama di The Regent. Review selengkapnya dapat dibaca di: http://www.musical.org.nz/miss_saigon_pnth_reviews.htm
Bagi kami sendiri, walau banyak waktu, tenaga, dan biaya yang harus dikorbankan, kami mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, ketrampilan baru, dan tentunya, teman-teman baru. Sebanyak kurang lebih 40 pemeran pembantu, 9 offstage vocalist, 7 pemeran utama, 3 pemeran Tam dan 8 pemeran anak-anak telah menjadi keluarga baru kami, "The Saigoners". Kami hanya berharap keluarga baru ini tidak cepat bubar setelah motor utamanya 'Miss Saigon' selesai dipentaskan.
Keberhasilan pentas ini juga tak lepas dari peranan sang sutradara, Stephen Robertson. Tak kalah dengan pertunjukkan di kota-kota lain di New Zealand, koreografi tarian tentara Vietcong dalam 'Morning of The Dragon' dan sequence adegan helicopter di Kedubes US 'The Evacuation' adalah beberapa contoh ciri khas arahan sang sutradara yang telah mendalami dunia teater selama kurang lebih 20 tahun. Foto-foto dari beberapa adegan dapat dilihat di: http://www.musical.org.nz/miss_saigon_photo.htm
Setelah pertunjukkan terakhir, pihak pengelola, pihak sutradara, para pemeran utama, pemeran pembantu dan kru panggung berkumpul dalam pesta penutupan yang diselenggarakan di Abbey Theatre. Adapun rencana pertunjukkan drama musikal terkenal lainnya yang akan dipentaskan pada bulan Agustus 2009. Drama tersebut berjudul 'Jesus Christ Super Star'. Beberapa pemain berharap untuk dapat kembali berpartisipasi dalam drama ini. Penulis sendiri pun berharap untuk dapat turut serta bila kondisi memungkinkan.
Penulis, atas nama pemain lainnya, ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman yang telah menyisihkan waktu (dan biaya) untuk menonton pertunjukkan kami!
Penulis artikel: Shirley Ghozalli Sumber photo: Aretha 'Sasha' Atmadjaja